Showing posts with label Energi. Show all posts
Showing posts with label Energi. Show all posts

Saturday, September 05, 2009

Ban Masa Depan, Ban Kendaraan Berbahan Kayu


Tidak lama lagi, para pemilik kendaraan di seluruh dunia akan merasakan bagaimana berkendara di atas ban kendaraan berbahan baku serat kayu. Ban tersebut nantinya akan lebih murah, performa lebih baik, tahan panas dan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar.

Baru-baru ini para peneliti dari Oregon State University berhasil menemukan bahwa kristal mikro selulosa berpotensi menggantikan penggunaan sebagian silika sebagai reinforcing filler, pada proses pembuatan ban kendaraan. Pada penelitian tersebut, penggunaan selulosanya mencapai 12%.

Kristal mikro selulosa dapat dengan mudah dibuat dari hampir setiap jenis tumbuhan. Selama ini, serat selulosa hanya dipergunakan sebagai penguat pada produk-produk karet seperti sabuk pengaman, selang dan bahan isolasi. Sebagai bahan penguat ban, biasanya digunakan carbon black dan silika. Carbon black dan silika sifatnya sangat keras, sehingga mengurangi efisiensi bahan bakar kendaraan.

Sedangkan kristal mikro selulosa, diproduksi dari bahan yang terbarukan, jauh lebih murah, ringan dan mudah didapat. Kristal mikro selulosa dihasilkan dengan proses hidrolisa asam, dengan biaya produksi yang relatif lebih murah. (eurekaalert)

Tuesday, February 24, 2009

Enzim Mampu Mengubah Kayu dan Air Menjadi Hidrogen

Kendaraan bertenaga sel bahan bakar masa depan kemungkinan besar akan memanfaatkan hidrogen yang dihasilkan dari campuran beberapa macam enzim dan bahan selulosa (seperti potongan kayu atau rumput), serta air.

Adalah para peneliti dari Virginia Tech, Oak Ridge National Laboratory dan University of Georgia yang telah berhasil mensintesa gas hidrogen murni dari campuran 14 macam enzim, 1 co-enzim, selulosa dari bahan non-makanan dan air. Campuran tersebut selanjutnya dipanaskan pada temperatur sekitar 90 derajat celcius untuk menghasilkan gas hidrogen.

Para peneliti tersebut mengungkapkan bahwa mereka mencatat paling tidak ada tiga kemajuan dari hasil penelitian mereka ini, yaitu ditemukannya kombinasi campuran enzim yang baru, laju produksi hidrogen yang dihasilkan jauh lebih besar serta energi kimia yang dihasilkan lebih besar dari energi kimia yang tersimpan dalam gula.

Penemuan ini sekaligus semakin memperkaya sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas hidrogen, yaitu selulosa kayu dan rumput.

Para peneliti tersebut memperkirakan bahwa jika 2-3% dari total produksi biomasa dunia mampu dimanfaatkan untuk menghasilkan gas hidrogen untuk sel bahan bakar, maka kebutuhan bahan bakar untuk transpotasi dunia akan tercukupi dari sumber yang satu ini. (sumber: eurekalert.org)

Thursday, December 18, 2008

Limbah Kopi Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel

Biodiesel, sumber energi alternatif yang terbarukan, kini sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Bukan hanya dari jumlah konsumsi yang terus meningkat, akan tetapi nampak pula dari munculnya berbagai macam sumber bahan baku baru penghasil minyak biodiesel.

Sebut saja misalnya ada kacang kedelai, biji pohon jarak, minyak sawit, minyak kacang bahkan minyak goreng daur ulang bekas restoran.

Baru-baru ini para peneliti dari Nevada Amerika Serikat telah berhasil mengekstrak minyak biodiesel dari limbah kopi, seperti dipublikasikan oleh American Chemical Society's (ACS) Journal of Agricultural and Food Chemistry, sebuah media publikasi dwi mingguan.

Disebutkan dalam publikasi tersebut bahwa, limbah kopi mengandung biodiesel sebesar 10% sampai dengan 20%. Dari total kapasitas produksi kopi dunia yang hampir mencapai angka 16 milyar pon per tahun, diperkirakan berpotensi menghasilkan biodiesel sebesar 340 juta galon.

Menurut para penelitinya, biodiesel yang dihasilkan dari limbah kopi ini lebih stabil dibandingkan dengan yang diperoleh dari sumber lain, karena kandungan anti oksidannya yang cukup tinggi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya patut menjadi perhatian kita bersama, karena ternyata kita sebagai negara tropis memiliki potensi produksi kopi yang cukup tinggi.

Monday, September 01, 2008

Sudah Jam 6 Pagi, Lampunya Kok Belum Dimatikan?

Menurut pemerintah, krisis listrik di Indonesia diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2010 mendatang.

Krisis listrik ini diperkirakan baru akan berakhir setelah rampungnya proyek pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW (Antara.co.id). Namun, kekhawatiran tetap saja ada, karena mega proyek listrik tersebut bisa saja terhambat penyelesaiannya karena berbagai sebab. Itu artinya, krisis listrik ini mungkin masih akan berlangsung setelah tahun 2010!

Untuk menambah cadangan listrik, kini setiap rumah mendapat giliran pemadaman listrik oleh PLN. PLN pun begitu gencar kita dengar agar kita sebagai warga masyarakat bisa berhemat listrik.

Pemadaman bergilir kini berganti dengan Surat Keputusan Bersama 5 Menteri (SKB 5 Menteri).

Tapi tetap saja banyak diantara kita yang kurang peduli, dengan kondisi krisis seperti ini. Jam 6 pagi lampu di luar rumah dan lampu taman belum juga dimatikan.

Kita mungkin bisa berkilah, saya ‘kan bayar tagihan listrik setiap bulan. Tidak pernah nunggak lagi.

Kalau cara berpikir kita seperti itu, rasa-rasanya krisis listrik ini mungkin tidak akan pernah berakhir.

Sekarang coba bayangkan (kalau tidak mau menghitung). Bila setiap rumah mau mematikan lampu halaman mulai jam 5.30 berapa besar biaya yang dapat kita hemat.

Maka kalau biasanya kita mematikan lampu halaman mulai jam 6 pagi, mulailah hari ini untuk mematikan mulainya jam 5.30 pagi.

Saya sangat yakin bila setiap kita mau melakukannya, maka krisis listrik yang sedang kita hadapi tidak akan berlangsung lama, tanpa perlu menunggu rampungnya proyek listrik 10.000 MW.

Tuesday, July 29, 2008

Ganti Voucher Fisik Anda Ke Voucher Elektrik

Kalau saja setiap pengguna HP atau telepon selular di Indonesia melakukan pengisian pulsa satu kali per bulan, coba bayangkan berapa banyak volume sampah kertas voucher fisik yang dihasilkan.

Padahal, hanya dengan mengalihkan isi ulang pulsa dari voucher fisik ke voucher elektrik, berarti kita sudah ikut andil mengurangi produksi sampah di Indonesia. Secara otomatis kita pun sudah ikut berupaya menyelamatkan keberadaan hutan di Indonesia, yang notabene sebagai penyedia bahan baku pembuatan voucher fisik.

Jadi mulai sekarang ganti voucher fisik anda ke voucher elektrik.

Ayo…kita pasti bisa. Cari tahu, semua ada ilmunya.

Tuesday, December 25, 2007

Bahan Bakar Biodisel Dari Lemak Ayam

Para peneliti dari Universitas Arkansas, Amerika Serikat, baru-baru ini berhasil menemukan sebuah proses yang dapat mengubah lemak dan asam lemak rantai panjang dari ayam menjadi bahan bakar biodisel (biodiesel fuel).

Proses yang mereka temukan disebut dengan Supercritical Methanol. Melalui proses tersebut 90% lemak ayam mampu diubah menjadi biodisel.

Selama dalam proses Supercritical Methanol, lemak ayam dipanaskan pada tekanan tinggi sampai mencapai critical point-nya atau titik kritisnya, yaitu temperatur dan tekanan tertinggi dimana uap dan cairan suatu zat berada dalam kondisi kesetimbangan.

Selain itu, proses supercritical methanol tidak memerlukan katalis dalam proses konversi lemak ayam menjadi biodisel sehingga menjadi lebih kompetitif secara ekonomi.